Ikuti Jejak Makassar Galata Club 2 Club Milik Jusuf Kalla Dan Juragan Kayu

Ikuti Jejak Makassar Galata Club 2 Club Milik Jusuf Kalla Dan Juragan Kayu – Pertandingan semi profesional Liga Inggris (Galatama) menandai kancah sepak bola Indonesia. Pertandingan dimulai pada 1979 dan pernah dikenal sebagai liga terbaik di Asia. Kompetisi elit Jepang, J League Bar yang didirikan pada tahun 1992, meniru model kompetisi Galatama. Dua klub Galatama, Krama Yudha Tiga Berlian dan Pelita Jaya mencapai semifinal Liga Champions Asia, dan tim yang pertama kali tampil di Galatama adalah pemain terbaik dari asosiasi tersebut. Inilah mengapa Galatama juga dikenal sebagai “universitas” pertandingan sepak bola Indonesia. Alhasil, pamor aliansi Galatamar digempur, yang juga terjadi di Makassar. Di penghujung 1979, Jusuf Kalla, pengusaha kondang dari Provinsi Sulawesi Selatan, mendirikan Makassar Utama dan mengikuti musim 1980-1982. Informasi pemain utama Makassar saat itu diambil dari PSM Makassar. Ini termasuk Syamsuddin Umar, Donny Pattisarani, Karman Kamaluddin, Pieter Fernandez, Hamid Ahmad, Hafied Ali, Jhoni Kamban, Albert Kaperek, Rohandi Yusuf, Abdi Tunggal, Rijal Mappa dan Musdan Latandang.

Makassar Utama yang dipimpin oleh Ilyas Haddade dan Nus Pattirasani langsung menyedot perhatian. Mereka bertengger di papan tengah. Juara musim itu adalah Niac Mitra (Surabaya). Hasil terbaik Makassar mengalahkan Tamar pada pertandingan Galatama terjadi pada musim 1984. Mereka menduduki peringkat ketiga dengan 29 poin, hanya tertinggal dua poin dari juara Yanita Utama. Urutan kedua diraih UMS 80 yang memiliki poin sama dengan Makassar. Setelah musim ini, Makassar memainkan Tamar dan mulai meregenerasi pemain. Rohandi Yusuf, Maukar Mustari, Ruslan, Benny Titamena, Safaruddin, Mustari Ato, Alibaba, Sangkala Rowa, Frenkyky Weno, Kusnadi Kamaluddin dan Sumirlan juga bergabung dengan Makassar. Mereka masih didukung pemain senior seperti Donny, Karman dan Syamsuddin Umar yang juga merupakan asisten pelatih. Bakat muda membuat penampilan Makassar semakin menarik. Baru pada musim 1985, persaingan antar klub semakin ketat. Di penghujung musim, Makassar Utama diperingkat di Peksa 78, Arseto Solo (Arseto Solo) dan Krama Yudha Tiga Berlian (Krama Yudha Tiga Berlian) keempat. Syamsuddin Umar pernah mengatakan kepada Bola.com: “Kami berlomba di Galatama berdasarkan semangat dan persatuan. Jika Anda melihat situasi keuangan klub sebagai referensi, maka Makassar Utama jauh tertinggal. Di musim berikutnya, pencapaiannya pun tak jauh berbeda.

Makassar Utama menempati peringkat kelima dalam peringkat akhir. Meski begitu, di tahun yang sama, Makassar mengalahkan Niac Mitra 1-0 pada final yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta untuk merebut Piala Liga 1986. Meski tak pernah meraih trofi Galatama, Makassar Utama juga masuk dalam daftar klub penyumbang timnas Indonesia, termasuk Rohandi Yusuf yang mewakili tim sebelum Olimpiade 1988 dan membantu Indonesia menjuarai sepakbola di Asian Games Tenggara 1987. Peraih medali emas Frankie Weno (Frengky Weno). Selain itu, ada beberapa pemain yang terpilih oleh timnas, seperti Hafid Ali dan Hasriel Mawan. Usai merebut trofi Piala Liga 1986, penampilan Makassar Utama terbilang mantap. Hingga akhirnya, sebagai pemilik, Jusuf Kalla memutuskan membubarkan timnya. Sebagai gantinya, sebagian besar peserta di Makassar menjadi karyawan Grup Bosowa milik Aksa Mahmud yang juga merupakan putra Jusuf Kalla. Beberapa orang memilih untuk melanjutkan karir atau menjadi pegawai negeri. Belakangan, beberapa pemain Makassar Utama menjadi tulang punggung PSM, seperti Ansar Abdullah dan Mustari Ato. Nama terakhir menjadi faktor penentu PSM mengalahkan PSMS Medan 2-1 di final Perserikatan Bangsa-Bangsa 1992.
sumber : https://www.bola.com/indonesia/read/4294969/jejak-2-klub-makassar-era-galatama-milik-jusuf-kalla-dan-juragan-kayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *